Teori Media, Praktik dan Sistem Sosial: Sebuah Analisis Praktik dalam Sistem Sosial dan Keseharian dari Perspektif Komunikasi Oleh: Verdy Firmantoro

Sumbangan pemikiran Bourdieu terhadap komunikasi terutama berkaitan dengan budaya kontemporer dan masyarakat terletak pada konsep-konsep yang diproduksinya, seperti habitus, struktur, kapital, kekuasaan juga arena (Bourdeu, 1977). Habitus sebagai proses interaksional yang mencipta konstruk pemahaman tertentu dan bersifat kuat atau cenderung melekat. Sementara kapital merupakan sumber daya yang memungkinkan pengaksesan peluang-peluang tertentu, misalnya kapital budaya, kapital sosial, kapital simbolik, kapital digital, kapital ekonomi, dll. Arena dapat diartikan sebagai medan pertarungan yang melibatkan akumulasi habitus dan kapital. Bourdieu menempatkan setiap konsep seperti, habitus, struktur, kapital saling terhubung satu sama lain.

            Bourdieu menekankan pemahaman praktik dalam sistem sosial dengan menjelaskan bahwa pengalaman asli dari dunia sosial tidak pernah dapat dipahami sebagai sistem hubungan yang objektif, kecenderungan terdapat potensi distorsi. Namun, pada kenyataannya, teori praktik sendiri memprasyaratkan adanya objektivisme dalam membentuk sistem praktik sosial sebagai sistem hubungan objektif terlepas dari kesadaran dan keinginan individu (Bourdieu, 1977).

            Perspektif komunikasi menempatkan pemahaman atas praktik dengan melihat proses-proses yang mengarah pada terciptanya habitus sebagai hasil produksi makna yang saling ternegosiasikan dalam konteks dan sosiokutural tertentu. Oleh karena itu, kontrubusi Bourdieu yang mampu memecah kebuntuan dualisme di antara struktur dan agen,, objektivisme dan subjektivisme maupun individu dan masyarakat. Konsepsi ini yang memberikan warna untuk mengubah lanskap perspektif komunikasi yang pada awalnya berkecenderungan pada positivisme ansich, mengarah pada perspektif kritikal.

            Melanjutkan kerangka kerja teoritis yang telah ada terkait dengan pemahaman praktik, de Certeau (1984) memberikan penajaman berkaitan dengan pemahaman praktik sebagai aktivitas keseharian. Melalui analisis praktik, kita dapat melihat adanya dominasi dalam kehidupan, representasi dan perilaku sosial ditempatkan oleh individu maupun kelompok, termasuk penggambaran taktik orang biasa dalam menggapai otonomi atas kekuatan-kekuatan kapital yang beredar. Praktik keseharian menciptakan dirinya sendiri mencapai ketakterhinggaan daripada orang lain (de Carteau, 1984). Lebih lanjut dapat diartikan bahwa, memotret praktik keseharian jauh lebih kompleks dan detail.

            De Carteau menyebutkan bahwa karyanya lahir sebagai studi tentang budaya populer atau kelompok marginal. Melalui konteks tersebut, analisis praktik sehari-hari tidak diarahkan untuk menggali perbedaan budaya dalam kelompok terkait (counter culture), melainkan dengan melakukan dua mekanisme investigatif baik yang bersifat deskriptif  maupun investigasi dengan penelusuran literatur ilmiah (de Certeau, 1984).

            De Certeau (1984) menempatkan masyarakat menjadi dua kelompok, yakni produsen budaya (kelas penguasa) dan pengguna budaya (orang biasa). Melalui pembacaan tersebut, saya memahami bahwa konteks budaya itu tidak hanya persoalan produk atau sistem, melainkan bagaimana cara pengguna berinteraksi dan beradaptasi sebagai konsekuensi logis terpaan budaya-budaya menjadi poin penting melihat praktik dalam keseharian itu sendiri. De Certeau secara tidak langsung juga selaras dengan sudut pandang Gramsci bahwa ada praktik hegemoni yang melibatkan pertarungan elit dan kelas bawah, dalam konteks tersebut sebagai sebuah praktik keseharian memunculkan adanya perlawanan menentang struktur dan penguasa. Contoh perlawanan dalam konteks bermedia, misalnya memahami praktik keseharian jangan hanya melihat konsumsi khalayak atas media, tetapi bagaimana khalayak mempergunakan konsumsi atas media tersebut. De Certeau menyebut konteks tersebut sebagai bentuk kreatif melakukan perlawanan. Kekuatan perspektif de Certeau juga memberikan pemahaman yang holistik untuk membongkar relasi kuasa dalam masyarakat dengan mendorong tidak membaca teks sebagai sesuatu yang sederhana, melainkan juga perlu melihat berbagai faktor lain termasuk memahami bahwa produdusen juga bagian dari pengguna (de Certeau, 1984).

Pertanyaan Penelitian

Bagaimana habitus para akademisi di lingkungan perguruan tinggi dalam menggunakan Scopus sebagai media internasionalisasi praktik akademik?

Referensi

Bourdieu, P. (1977) Outline of a Theory of Practice. Cambridge: Cambridge University Press.

de Certeau, M. (1984). The Practice of Everyday Life. University of California Press: Berkeley.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *