Teori Media, Interaksionisme dan Strukturasi

Verdy Firmantoro

Melalui uraian ini saya akan menguraikan termasuk membandingkan dan mengembangkan hubungan antara teori media, interaksionisme dan strukturasi dalam perspektif komunikasi. Merujuk pada dua sumber bacaan yakni The Constitution of Society oleh Giddens (1984) dan Human Behavior and Social Processes oleh Rose (1962). Tulisan Giddens sebagai bentuk kritik atas pandangan struktur-fungsional dan justru ingin mengembangkan lebih lanjut dengan mencari hubungan (linkage) dengan paradigma konstruktivis. Pandangan Giddens berupaya menjembatani baik struktural-fungsional maupun konstruktivis dengan menempatkan agen dan struktur bukanlah sebuah dualisme yang bertentangan, melainkan setiap diri sebagai subjek aktif yang dapat berperan serta dalam mengatur struktur itu sendiri (Giddens, 1984).

            Melalui pembacaan atas Giddens (1984), terdapat tiga gugus besar struktur, meliputi signifikansi atau makna; kekuasaan atau dominasi; dan legitimasi. Ketiganya ini memengaruhi sejauhmana sumber daya didistribusikan termasuk peranan agensi dalam memengaruhi berjalannya struktur. Dalam pendekatan strukturasi, struktur atau seperti institusi media justru menjadi medium itu sendiri. Bagi Giddens, struktur hadir baik bersifat internal maupun eksternal. Jika dalam konteks internal, struktur hadir dalam konteks atau ranah individu berbentuk jejak memori (1984, h.25), jika dalam konteks eksternal sebagai representasi tindakan sosial. Giddens (1984, h. 5-34), menyebutkan elemen-elemen yang berkaitan dengan teori strukturisasi, meliputi agen & agensi; agensi & struktur kekuasaan; dualitas struktur; bentuk institusi serta waktu, the body & encounter. Selain itu, Giddens juga menekankan bahwa dalam teori strukturasi terdapat penciptaan dan reproduksi sistem sosial (1984, h. 162) yang sifatnya sebagai sebuah proses yang konstitutif, bukan merupakan prosedural yang statis. Adanya repetisi tindakan sosial dalam praktik keseharian menciptakan pola yang melampaui ruang dan waktu. Oleh karena itu, dengan meminjam teori strukturasi dalam studi komunikasi mengarahkan kita dapat menempatkan misalnya, institusi-institusi media bukanlah sebagai faktor baku yang menata tindakan sosial, melainkan sebagai bentuk interaktif antara agen atau agensi dengan yang bersifat pasif dan struktur yang juga memberdayakan. Dalam hal tersebut, Giddens menjelaskan sejauhmana kesadaran atau ketidaksadaran memengaruhi reproduksi sosial.

            Selanjutnya, mengurai ide-ide utama dalam Human Behavior and Social Processes oleh Rose (1962) menunjukkan bahwa teori interaksionisme sebagai perpanjangan pemikiran William James kemudian John Dewey yang diteruskan oleh pemikir yang sangat familiar kita dengan dalam tradisi sosiokultur dalam komunikasi yakni George Herbert Mead (teori interaksionisme simbolik). Sejumlah landasan terkait pemikiran ini, di antaranya: manusia membuat keputusan dan bertindak sesuai pemahaman subjektif sesuai dengan konteks yang berlaku; kehidupan sebagai sebuah proses yang terus berubah (dinamis) bukan merupakan sususnan-susunan mekanis; manusia memahami pengalaman melalui makna dalam simbol dari kelompok mereka dan bahasa dalam praktik kehidupan sosial; dunia terbentuk dari objek-objek sosial yang mempunyai makna; tindakan manusia tas dasar intepretasi atau penafsiran serta diri seseorang merupakan objek yang signifikan yang bersifat interaktif (Littlejoh & Foss, 2008, h. 231).

           Blumer (1962) juga menegaskan bahwa perilaku, struktur, dan produksi makna di dalamnya berlangsung secara konstitutif. Individu maupun kelompok memberikan intepretasi untuk mencapai kesepakan sosial tertentu. Makna ditentukan bukan sebagai proses yang statis, melainkan dikonstruksi secara sosial. Oleh karena itu, dengan teori interaksionisme ini, memberikan pandangan dalam perspektif komunikasi terutama berkaitan dengan melakukan analisis sosial dengan menempatkan makna bersandar dalam konteks sosial itu sendiri. Pengalaman-pengalaman menjadi salah satu faktor yang membentuk tindakan sosial dan mengarah pada pembentukan makna yang bersifat interaktif. Sehingga, memahami teori media bukan lagi hanya pada tataran transfer pesan dari encoder ke decoder, tetapi sebuah pemaknaan sosial yang mencapai kesepahaman bersama.

Pertanyaan Penelitian

Bagaimana strukturasi menjelaskan produksi pengetahuan di Indonesia dan bagaimana interaksi simbolik menjelaskan pemaknaan para akademisi terhadap Scopus?

Referensi

Blumer, H. Society as Symbolic Interaction. In A. M. Rose (ed.) Human Behavior and Social Process: An Interactionist Approach.

Giddens, A. (1984). The Constitution of Society. Cambridge: Polity Press.

Littlejoh, S. W & Foss, K. A. (2008). Teori Komunikasi, Edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.

Rose, A. M. (1962). Human Behavior and Social Processes. Cambrige: The Riverside Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *