Teori Media, Hiperrealitas, dan Masyarakat Informasi

Verdy Firmantoro

Review ini berupaya mendiskusikan dua referensi bacaan terkait dengan hiperealitas melalui buku Simulacra and Simulation karya Jean Baudrillard dan masyarakat jaringan melalui buku The Rise of Network Society karya Manuel Castells. Baudrillard menggarisbawahi bahwa di era kebudayaan kontemporer mengarahkan semua yang nyata menjadi simulasi atau lebih lanjut sampai pada level hiperalitas. Setidaknya ada tiga figur yang memengaruhi pemikirannya, meliputi: Karl Marx, Henry Levebre dan Roland Barthes. Sementara, ide pemikiran Castells lebih menekankan pada adanya perubahan sosial, politik, ekonomi, budaya termasuk struktur masyarakat sebagai implikasi dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Castells dalam buku ini juga menekankan bahwa masyarakat jaringan (network society) telah melampaui gagasan masyarakat informasi (information society) di mana node atau titik sudah saling terhubung satu sama lain yang mengarah pada struktur baru berbasis jaringan. Selanjutnya secara lebih mendalam saya akan membagi dua bahasan, pertama saya akan memaparkan pandangan-pandangan Baudrillard terlebih dahulu, kemudian dielaborasi dengan pandangan-pandangan Castells, yang tentunya semua konteks ini memberikan kontribusi dalam mewarnai perspektif komunikasi.

Pertama, membaca Simulacra dan Simulation dari Baudrillard. Apa maksud dari dua kosa kata tersebut? Simulasi dapat diartikan sebagai bentuk realitas imitasi yang masih berpedoman atau mengacu pada realitas yang sebenarnya. Simulacra sebagai sebuah proses simulasi di mana citra atau penanda telah menggantikan pengalaman nyata dan menjadi realitas bentukan atau imitasi yang tidak mengacu pada realitas yang sebenarnya. Selanjutnya, dari tahapan tersebut akan menghasilkan apa yang disebut dengan hiperealitas di mana realitas yang ada sebelumnya didekonstruksi dengan realitas yang baru “lebih real dari realitas itu sendiri” atau Baudrillard menyebut,

It is the generation by models of a real without origin or reality: a hyperreal or a hyperreal henceforth sheltered from the imaginary, and from any distinction between the real and the imaginary, leaving room only for the orbital recurrence of models and for the simulated generation of differences” (Baudrillard, 1994, h. 1-2).

Beberapa konsep penting yang ada dalam buku Simulacra and Simulation, seperti hyperreal & imaginary, political incantation, strategy of the real, the end of the panopticon, hypermarked and hypercommodity, the implosion of meaning in the media, simulacra and science fiction, nihilism. Melalui konsep-konsep tersebut, Baudrillard memberikan dua contoh kasus yang menunjukkan hyperreal & imaginary melalui Disneyland dan political incantation melalui kasus Watergate.

            Sebagai sebuah hiperealitas, Disneyland yang notabene hanya sebagai pusat hiburan berupa animasi-animasi visual yang menarik yang di dalamnya membangkitkan imajinasi-imajinasi justru dianggap sebagai “the real America”. Disneyland mampu mendekonstruksi realitas Amerika yang sebenarnya dengan menampilkan keindahan-keindahan “imajiner” sebagai sebuah hiperealitas. Dalam konteks ini mengarahkan pada image bahwa Amerika selalu tampak indah, seolah tidak ada realitas lain di luar itu (Baudrillard, 1994). Upaya mengaburkan realitas yang sesungguhnya ke dalam realitas bentukan yang justru dianggap sebagai sesuatu yang real adalah bentuk hiperealitas. Baudrillard menunjukkan jika era kebudayaan kontemporer dan revolusi industri menjadi medium yang produktif dalam mencipta yang sebelumnya sebuah realitas semu justru tampak menjadi realitas yang sebenarnya. Sementara political incantation atau mantra politk terjadi dalam kasus Watergate di mana skandal politik yang melibatkan presiden AS dalam peristiwa penyadapan terhadap lawan politiknya. Dalam konteks ini, mantra politik mengaburkan posisi negara yang seharusnya menjaga etika politik justru melakukan pelanggaran-pelanggaran yang meruntuhkan nilai realitas yang sebenarnya. Negara dalam hal ini berlaku sewenang-wenang, tetapi seolah tampak konstitusional. Di sinilah bagian dari narasi simulakra terjadi, “inkonstitusional menjadi konstitusional”, skandal justru dimanfaatkan sebagai negativitas pembenaran.

            Kedua, membaca The Rise of Network Society dari Castells. Castells (2010, h. xvii) menegaskan bahwa perlunya pendekatan baru di tengan era ketidakpastian. Bagi Castells, era teknologi informasi dan komunikasi tidak lagi sekedar menjadi alat (tolls) melainkan menjadi infrastruktur kehidupan itu sendiri. Polarisasi sosial terjadi pasca pergeseran interaksi yang konvensional atau tradisional mengarah melibatkan teknologi. Lanskap struktur sosial masyarakat masyarakat berubah menjadi masyarakat yang saling terhubung dengan berbagai saluran komunikasi terutama komunikasi digital. Oleh karenanya, konvergensi kekuasaan terjadi, setiap individu atau kelompok mempunyai peluang untuk saling memberi pengaruh satu sama lain. Perspektif Castells menunjukkan bahwa salah satu basis masyarakat jaringan adalah informasionalisme (Castells, 2010, h. 18). Informasionalisme dipahami bahwa pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya informasi menentukan produktivitas. Informasi menjadi modalitas penting dalam melakukan pengembangan. Sehingga, penguasaan terhadap informasi memungkinkan untuk dapat melakukan akselerasi dan penguasaan terhadap dunia.

            Konsepsi Castells menyoal masyarakat jaringan tidak lepas dari tersambungkannya aliran-aliran informasi ke berbagai elemen atau struktur sosial. Informasi tidak hanya menjadi resource, melainkan juga sebagai penghubung yang menciptakan masyarakat yang interaktif (The interactive society) (Castells, 2010, h. 285). Perubahan-perubahan tersebut juga mendorong terjadinya perubahan atau penyesuaian terhadap teori-teori media. media dalam konteks ini sudah mengarah pada apa yang disebut sebagai new media. Oleh karenanya terkait dengan konsep ruang dan waktu mempunyai dimensi yang berbeda dengan media konvensional. Bahkan Castells juga mengingatkan bahwa implikasi perubahan yang cukup signifikan ini terutama berkaitan dengan teknologi informasi adalah kemungkinan terjadinya jobless society sangat besar. Substitusi dari human labour menjadi machine memberikan efek domino yang mendasar dalam peradaban kemanusiaan. Di samping itu, dalam salah satu chapternya, Castells menyebutkan timeless time, the blurring of the life-cycle, menggambarkan bahwa dunia teknologi informasi yang mengarahkan terciptanya masyarakat jaringan ini akan meninggalkan pola-pola lama dan membawa pada antitesis dari kehidupan manusia yang sebenarnya.

            Merujuk dua bacaan pokok di atas, saya memandang bahwa perkspektif Baudrillard dan Castells mempunyai irisan yang menempatkan komunikasi sebagai sesuatu yang primer. Kerja simulasi, simulakra atau hiperealitas tidak lepas dari prinsip-prinsip komunikasi di mana makna lahir sebagai bentuk manipulasi simbolik. Sementara era teknologi informasi menyediakan piranti-piranti yang sangat mendukung dalam “menciptakan realitas”. Pergeseran dari masyarakat industri ke masyarakat informasi bahkan masyarakat jaringan memungkinkan pergeseran-pergeseran kapitalisasi yang bergerak ke ranah informasi. Produktivitas tidak lagi sekedar ditentukan oleh para pemegang kewenangan, melainkan terkonvergensi ke individu-individu atau kelompok-kelompok yang mampu menggunakan informasi. Dengan demikian, perkembangan relasional baik media, masyarakat jaringan dan hiperealitas dalam era saat ini akan sangat bergantung pada determinasi teknologi dan kapitalisasi sumber daya informasi.  

Pertanyaan Penelitian:

Bagaimana para akademisi di lingkungan perguruan tinggi menggunakan Scopus sebagai media membangun komunitas akademik global di era network society?

Referensi

Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. Ann Arbor, MI: University of Michigen Press.

Castells, M. (2000). The Rise of Network Society, 2nd ed. Oxford: Blackwell.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *