Teori Media, Modernitas dan Postmodernisme

Verdy Firmantoro

Tulisan ini berupaya menjelaskan, membandingkan dan mengembangkan hubungan teori media dan modernitas serta postmodernitas melalui review atas dua sumber bacaan, meliputi Understanding Media: The Extensions of Man (McLuhan, 2003) dan Modernity and Postmodern Culture (McGuigan, 2006). Irisan dua tulisan ini menempatkan modernitas sebagai era perubahan di mana peran serta teknologi informasi dan komunkasi menyerta dalam dinamika masyarakat. McLuhan melalui konsep pentingnya the medium is the message mengubah lanskap perspektif bahwa media bukan hanya sebagai saluran, namun justru mampu bertindak sebagai realitas isi itu sendiri. Sementara, McGuigan menonjolkan postmodernisme menyikapi kapitalisme modernitas yang tidak pernah benar-benar berakhir, namun di sisi lain mengelaborasi dengan logika budaya dengan memberi jalan alternatif bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran alternatif di luar narasi tunggal yang mendominasi.

Medium is the message adalah konsep yang paling familiar kita kenal dari McLuhan (2003). Lebih lanjut McLuhan memberikan pandangan bahwa perkembangan media-media baru terutama televisi sebagai bentuk new tecnology pasca dominasi media cetak atau surat kabar mengarahkan terciptanya transformasi media termasuk efek dari adanya transformasi tersebut. Bagi McLuhan, media tidak hanya menjadi perantara pesan, melainkan juga kepanjangan tangan dari manusia. Media tidak hanya sekedar karya teknis berwujud mesin, melainkan segala ide yang termediakan sebagai kepanjangan tangan manusia merupakan media itu sendiri. Implikasi dari transformasi media tentu sangat besar terutama terkait dengan otomatisasi yang mempunyai dampak terhadap reposisi penggunaan sumber daya manusia (McLuhan, 2003).

Jika titik tolaknya teori-teori media terutama yang mengarah pada media effect, maka pandangan McLuhan berkontribusi dalam mewarnai ide dasar bahwa inti dari media bukan sekedar isinya, tetapi media itu sendiri yang bertindak sebagai “The Extensions of Man”yang berpengaruh dalam mengontrol sekaligus menghasilkan efek yang besar. Dalam konteks ini, pemikiran McLuhan menjadi salah satu tonggak besar komunikasi terkait dengan upaya mengelaborasi teknologi sebagai bagian dari elemen perubahan di mana modernitas berakar dan ditumbuhkan dengan kecanggihan penemuan-penemuan. McLuhan menegaskan bahwa modernitas sebagai bentuk pergeseran dari masyarakat pra modern menuju masyarakat modern yang mensyaratkan adanya produksi dan ekspansi global dengan menyertakan peran teknologi-teknologi di dalamnya.

Sementara itu, tidak berhenti pada persoalan fase modernitas, munculnya postmodernisme menjadi bukti bahwa fase modernitas tidak menjadi akhir atau puncak peradaban, selalu ada antitesis yang menyertai pasca perkembangannya. Melalui tulisan McGuigan “Modernity and Postmodern Culture”, kita dapat mempersoalkan lebih lanjut. McGuigan (2006) jika meminjam penjelasan Giddens, modernitas setidaknya melibatkan dimensi utama yakni kapitalisme. Sementara postmodernisme memancing perdebatan terutama berkaitan budaya kontemporer berbasiskan pada ide-ide poststrukturalis dan formasi budaya. McGuigan selanjutnya memosisikan posmodernisme dalam dua sudut pandang, di satu sisi sebagai ide dan subjekstivitas, di sisi lain sebagai ide filosofis dan reduksi budaya (McGuigan, 2006, h. 2). Salah satu gagasan utama postmodernisme adalah meyakini tidak adanya narasi tunggal yang mendominasi, tetapi memberikan ruang alternatif termasuk mengafirmasi munculnya pandangan-pandangan alternatif di ranah keilmuan. Melalui postmodernisme, wacana-wacana alternatif dibuka luas dan menolak adanya grand narasi yang bersifat universal.

Oleh karena itu, modernitas dan postmodernisme ini memberikan dampak yang besar dalam memahami studi-studi komunikasi terutama dalam membaca perkembangan teori media. Modernitas di satu sisi telah memberikan kontribusi terkait titik awal penemuan teknologi baru yang tentunya punya konsekuensi sebagai sebuah momentum revolusi industri, di sisi lain postmodernisme tidak sepakat dengan konsekuensi-konsekuensi modernitas yang meletakkan kebenaran sebagai narasi tunggal produksi dominan. Postmodernimse jika kita telaah merupakan dialektika keilmuan Barat melawan Barat itu sendiri, namun yang perlu menjadi catatan adalah terbukanya wacana produksi kebenaran lain atau memungkinkan munculnya alternatif menjadi salah satu pandangan yang cukup progresif. Dalam konteks tersebut, postmodernisme meskipun masih belum dianggap sebagai wacana yang tuntas, namun patut diapresiasi dalam konteks menstimulus munculnya alternatif konsepsi lain dalam melihat realitas bukan menjadi rezim tunggal kebenaran.

Pertanyaan Penelitian:

Bagaimana wacana membumikan Ilmu Komunikasi di Indonesia sebagai diskursus alternatif produksi pengetahuan global?

Referensi

McGuigan, J. (2006). Modernity and Postmodern Culture. Berkshire: Open University Press.

McLuhan, M. (2003). Understanding Media: The Extensions of Man. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *