Teori Media dan Konsumsi

Review oleh: Verdy Firmantoro

Berangkat dari karya Bourdieu dalam edisi bahasa Perancis yang ditulis tahun 1979 dengan judul La distinction: Critique sociale du jugementkemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Richard Nice tahun 1984 dengan judul Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste menguraikan bahwa terdapat relasi antara selera artistik di satu sisi dan posisi sosial di sisi lain. Selera bukanlah suatu hal given atau opsional dan bebas nilai, melainkan sebagai sesuatu yang dibentuk atau hasil dari konstruksi sosial. Justifikasi atas selera ini yang mengarahkan dan menentukan strata sosial atau apa yang disebut oleh Bourdieu sebagai “the mode of appropriation that is considered legitimate” (Bourdieu, 1984, h. 1).

Tesis Bourdieu yang dijadikan judul karyanya yang menyebut istilah distinction dapat dimaknai sebagai sebuah upaya menciptakan kekhasan atau pembedaan. Pembedaan yang dimaksud dapat merepresentasikan kelas sosial yang dimiliki. Hal tersebut digambarkan dalam bab pertama yang menunjukkan budaya aristokrasi dan silsilah budaya sebagai bagian legitimasi kelas sosial dan menentukan selera, seperti selera terhadap musik, lukisan, sastra, dll. Sementara pada bab kedua Bourdieu menguraikan seputar interelasi yang dinamis antara ruang sosial, kondisi kelas, habitus, gaya hidup, dinamika arena termasuk pertarungan simbolik yang melibatkan korespondensi produksi barang dan selera. Dalam konteks ini media berperan serta dalam menentukan selera atau proses konsumsi budaya simbolis. Selera menjadi wilayah yang otoritatif melalui proses objektitivikasi “diproduksi atau ditawarkan” dan terkesan ada pemaksaan simbolik (symbolic imposition) yang merepresentasikan suatu kelompok mempunyai kelas sosial tertentu (Bourdieu, 1984). Pada bab ketiga, Bourdieu memaparkan terkait selera kelas, gaya hidup, mode apropriasi, selera dominan, budaya dan politik juga disposisi, opini serta kelas habitus. Selera dalam hal ini dipahami sebagai sesuatu yang di luar kontrol personal, melainkan ada tautan relasional di antara kapital, habitus dan arena. Munculnya kecenderungan-kecenderungan tertentu atas selera merupakan hasil dari pertarungan simbolik yang melibatkan berbagai aspek seperti interaksi antara budaya dan politik.

Warde (2014) menjelaskan bahwa ada hubungan antara media dan konsumsi. Lebih lanjut diuraikan bahwa berkaitan dengan perayaan globalisasi termasuk munculnya beragam praktik komodifikasi memberikan ruang apa yang disebut dengan penyebaran budaya konsumen (consumer culture) yang fokusnya pada aspek gaya dan selera yang di dalamnya juga melibatkan budaya populer dan penggunaan media yang bersifat non-instrumental,

“Consumption was thus re-habilitated, a cause for celebration rather than dismay. Based in processes of globalisation, aestheticisation and commodification, people’s aspirations, activities and possessions were interpreted in terms of the spread of ‘consumer culture’. Research, much of it rich in semiotic and experiential detail, focused on style and taste, on sub-cultural expression, on popular culture, on uses of mass media, and on the playful and non-instrumental aspects of life” (Warde, 2014, h. 281-282).

Media dalam konteks ini dielaborasi dengan teori praktik. Teori praktik ini tentunya bukan hanya sebagai pendekatan alternatif dalam media, melainkan juga berkontribusi dalam studi konsumsi.

Melalui pembacaan atas tulisan Warde, teori praktik menekankan aspek eklektik sebagai kontribusi awal sosiologi konsumsi yang berakitan dengan kebiasaan atau rutinitas, kompetensi praktis dan regulasi (Gronow dan Warde, 2011 dalam Warde, 2014, h. 286). Slove dkk (2012 dalam Warde, 2014, h. 287) juga dipaparkan bahwa tiga konsep kunci untuk teori praktik, meliputi: makna, kompetensi, dan materi. Warde juga mengutip tulisan Bourdieu terutama tulisan Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, dalam telaah ini Warde menunjukkan bahwa Bourdieu sebagai bagian dari ahli teori sosial telah memberikan sumbangsih terkait studi konsumsi. Studi konsumsi bukanlah sesuatu yang sederhana, melainkan sangat menarik dikaitkan dengan selera, estetika, termasuk memberikan perbedaan yang mendasar atas analisis budaya dan teori praktik, dengan mengarusutamakan preferensi yang diartikulasikan dengan minat, penggunaan atau pengonsumsian barang-barang tertentu (Warde, 2014, h. 288).

Apresiasi di satu sisi terhadap teori praktik yang memengaruhi lanskap kajian media dan konsumsi, namun di sisi lain juga mendapatkan kritik. Sejumlah kritik yang saya rangkum dari tulisan Warde, seperti ketidaktepatan teoritis, elektisme metodologi, potensi konservatisme politik, kesulitan dalam penerapan pada kebijakan, terdapat perdebatan ontologis juga epistemologis serta teori praktik dianggap belum menaungi atau belum dapat menjelaskan perubahan sosial. Meskipun pada awalnya teori praktik dipromosikan untuk melampaui dualisme struktur dan agensi, namun kecenderungan-kecenderungan menempatkan posisi agensi lebih dominan dan sedikit mengabaikan struktur menjadi salah satu kelemahan teoritis pendekatan ini.

Untuk menjembatani kelemahan yang melingkupi teori praktik berkaitan dengan media dan konsumsi, saya sepakat dengan Warde yakni dengan menambah kerangka kerja lain terutama untuk menangkap aspek makro atau struktural konsumsi dan media. Dorongan untuk melakukan analisis penggunaan komoditas dalam praktik sehari-hari lebih sentral, daripada hanya menjelaskan atau mendeskripsikan kondisi kelembagaan dari eksistensi praktik-praktik yang berlangsung (Warde, 2014). Melalui pendekatan praktik, studi konsumsi menantang penjelasan individualistis dan ekses budaya, dan mengarahkan telaah atas konsumen barang budaya termasuk wujud dari praktik “selera yang diproduksi”. Jika kembali meminjam uraian Bourdieu, justifikasi soal rasa atau selera, bukan area yang netral, melainkan bagian dari disposisi menciptakan pembedaan (distinction) yang merepresentasikan kedudukan sosial tertentu.

Pertanyaan Penelitian

Bagaimana Scopus menjadi sarana komunikasi simbolik para akademisi di lingkungan perguruan tinggi dalam membangun distingsi?

Referensi

Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Warde, A. (2014). ‘After taste: Culture, consumption and theories of practice’. Journal of Consumer Culture, 14 (3), 279-303.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *