Teori Media dan Feminisme

Verdy Firmantoro

Tulisan ini berupaya memaparkan ide-ide utama pemikiran Judith Butler tentang feminisme dikaitkan dengan perspektif dan teori media melalui review karya Gender Trouble (1990) dan Undoing Gender (2004). Butler sebagai salah seorang pemikir post-strukturalis berkontribusi dalam menyumbang gagasan kritik atas penyempitan makna gender dan seksualitas melalui teori queer dan performativitas. Pemilihan istilah “Gender Trouble” merepresentasikan bahwa persoalan gender berkaitan dengan identitas, sebuah ekspresi performatif yang melibatkan konstruksi sosial yang berulang (Butler, 1990). Sementara istilah “Undoing Gender” lebih menitikberatkan bahwa ada kaitan antara interseks dan persoalan gender yang bersifat cair, tidak stabil dan kompleks (Butler, 2004). Oleh karenanya, menyoal feminisme dalam perspektif Butler, menempatkan bahwa identitas gender tidak ada yang asli, bahkan menaungi adanya penyimpangan-penyimpangan di luar norma sebagai sebuah identitas yang subversif.  

Memahami gender bukanlah konteks alamiah biologis, melainkan sebagai sebuah proses diskursif yang dibangun secara kultural (Butler, 1990, h. 10-11). Sejumlah konsepsi digunakan oleh Butler dalam mengartikulasikan Gender Trouble, di antaranya: “Women” as the Subject of Feminism; oposisi biner dan relasi kekuasaan; identitas gender; language, power & the strategies of displacement; reformulasi larangan sebagai kekuatan (reformulating prohibition as power); juga subversi peformatif. Dalam pandangan Butler, sebagai subjek memungkinkan untuk memaknai jati diri yang lebih humanis sebagai suatu identitas gender, meskipun di sisi lain tampak melawan “kodrat” kemanusiaan itu sendiri. Perlawanan atas norma sosial yang berlaku sebagai bagian narasi perjuangan yang peformatif (strategies of displacement) dan cara merefomulasi larangan sebagai kekuatan untuk membuktikan konstruksi identitas yang diinginkan. Butler dalam konteks juga mempertanyakan atau menggugat konsepsi perempuan yang dianggap sebagai “the symbolic”, sebuah konsepsi yang menunjukkan adanya ketidaksetaraan dengan laki-laki.

Melalui Gender Trouble, Butler menampilkan strategi perlawanan atas regulasi kategorikal seks menuju kesetaraan yang mencapai identitas gender yang diharapkan. Lebih ekstrim, seperti halnya gender yang bersifat cair, Butler menempatkan jenis kelamin  juga dimungkinkan untuk diubah. Bentuk penyimpangan tersebut dalam perspektif itu justru dinilai sebagai kemenangan melawan sistem sosial yang baku agar dapat “dinormalkan” dan diterima sebagai wacana normatif berbasis pengalaman. Transgender, lesbian, homoseksual dalam pandangan Butler tdak lagi ditempatkan sebagai bentuk penyimpangan, tetapi sebagai variasi identitas berbasis tidakan performatif (Butler, 1990). Ketundukan atas sistem sosial yang baku, menempatkan yang tidak wajar dianggap tidak normal, dinilai sebagai hegemoni yang kemudian dilawan melalui narasi subversif beradasarkan tindakan performatif yang membebaskan. Butler, tidak mempercayai ada kondisi alamiah, sebab setiap identitas merupakan sebuah prosess diskursus yang dinamis. Proses membawa sesuatu yang tidak lazim agar diterima masyarakat sebagai sebuah strategies of displacement, sehingga pada akhirnya ketidaklaziman tersebut dapat dinegosiasikan sebagai sebuah konstruksi sosial yang diterima sebagai keberagaman identitas. Lebih lanjut, melalui pandangan Butler, kita dapat meminjam teori queer yang memungkinkan terjadinya pergumulan dan praktik diskursif yang terus menerus dalam kaitannya dengan pelaku komunikasi atau menyoal identitas yang ditampilkan. Proyek penciptaan identitas tidak pernah final, bukan proses yang alamiah, melainkan konstruksi sosial.

“If gender attributes, however, are not expressive but performative, then these attributes effectively constitute the identity they are said to express or reveal. The distinction between expression and performativeness is crucial. If gender attributes and acts, the various ways in which a body shows or produces its cultural signification, are performative, then there is no preexisteing identity by which an act or attribute might be measured” (Butler, 1990, h. 141).

Sementara dalam tulisan Undoing Gender, Butler (2004) memberikan intisari bahwa hakikat gender bukanlah sesuatu yang given atau yang bersifat tetap, melainkan berdasarkan atas keinginan tindakan peformatif yang memungkinkan berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam konteks ini, spirit perlawanan gender memosisikan diri melampaui identitas seksualitas itu sendiri. Bahkan Butler menyebut ada istilah “undiagnosing gender”, sebagaimana menempatan perbedaan seksual sudah tidak relevan lagi (the end of sexual difference) sebagai variasi identitas yang mengharapkan pengakuan. Reorganisasi norma-norma seksual menjadi suatu keniscayaan. Status transgender atau transeksual menjadi narasi pembenaran yang menuntut tidak ada paksaan atau diskriminasi dalam menentukan pilihan identitas.

Butler (2004, h. 30) menyebutkan bahwa gender itu performatif, bukan hanya untuk menuntut hak dalam rangka menghasilkan tampilan yang subversif, melainkan juga menunjukkan cara-cara spektakuler dan konsekuensial di mana kenyataan direproduksi dan diperebutkan. Regulasi diarahkan untuk mengakui eksistensi perbedaan dan melazimkan penyimpangan-penyimpangan (undiagnosing gender) sebagai tindakan yang normal. Dalam hal ini, Butler memberikan pandangan bahwa identitas menjadi domain yang mewadahi pertarungan, identitas bukanlah sebuah awalan atau akhiran, bukan pula sesuatu yang normatif dan diidealkan, melainkan fitur deskriptif pengalaman yang memungkinkan keberagaman.

Pandangan Butler yang sudah saya paparkan sebelumnya, sangat beririsan dengan studi komunikasi. Dalam Littlejohn & Foss (2008), Teori Queer oleh Butler sebagai representasi teori feminisme ditempatkan dalam tradisi kritis yang mempersoalkan konteks subjek atau pelaku komunikasi. Teori feminisme Butler di satu sisi memberikan kontribusi terkait dengan mempersoalkan realitas komunikasi yang paradoks termasuk irisannya dengan teori-teori media kritis yang juga mempersoalkan identitas. Namun di sisi lain, kajian-kajian yang berdasar pada Teori Queer atau Feminisme relatif kurang dapat diaplikasikan dalam konteks Indonesia. Berbeda dengan sejumlah negara yang menganut asas kebebasan atau berbasis individualisme yang menggaungkan dalih nilai HAM, sementara dalam konteks Indonesia lebih mengarah pada basis agama dan kultural yang cukup ketat mengatur norma-norma sosial. Namun demikian, pendekatan feminisme terutama terkait dengan performativitas yang dikonsepsikan Butler tidak harus menyoal gender, tetapi dapat kita rujuk untuk selanjutnya dimodifikasi untuk menelaah konteks-konteks fenomena komunikasi yang lain berkaitan dengan topik identitas yang terus berubah sebagai hasil praktik diskursif.

Pertanyaan Penelitian

Bagaimana performativitas kalangan akademisi di lingkungan perguruan tinggi dalam praktik melawan rezim Scopus?

Referensi

Butler, J. (1990). Gender Trouble. New York & London: Routledge

Butler, J. (2004). Undoing Gender. New York & London: Routledge

Littlejohn, S.W., & Foss, K.A. (2008). Theories of Human Communication. Singapura: Cengage Learning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *