Teori Media dan Ekonomi Politik

Review oleh: Verdy Firmantoro

Awal studi media berpangkal dari tradisi riset administratif yang berkembang di Amerika Serikat. Riset administratif menekankan pendekatan kuantitatif melalui paradigma positivistik. Melalui kajian-kajian tersebut teori media berkembang dengan kecenderungan bersifat mediasentis berkaitan dengan efek media (media effect). Seperti yang pernah diulas dalam pertemuan kelas Seminar Perspektif dan Teori Media sebelumnya bahwa Couldry (2012) telah mencatatkan kritik atas teori media yang mengarahkan pada media effect. Kritik atas pendekatan yang berbasis media effect, melahirkan dialektika dengan pendekatan lain yang menganggap pendekatan tersebut terlalu reduktif atau simplifikatif dalam melihat realitas berkaitan dengan media. Salah satu respon kritis dari pendekatan yang berbasis media effect adalah ekonomi politik.

Ekonomi politik memberi perhatian pada kritik terhadap kapitalisme yang di dalamnya tidak hanya melihat media sebagai pemberi pengaruh (efek) terhadap khalayak, melainkan ada berbagai relasi kuasa yang beroperasi dalam praktik bermedia. Jika meminjam bahasa Couldry (2012), ekonomi politik merupakan perspektif yang melihat bagaimana sumber daya dan lembaga diatur serta didistribusikan termasuk bentuk-bentuk ketidaksetaraan atau dominasi yang melibatkan kekuasaan. Lebih lanjut, berbicara ekonomi politik kita tidak bisa memisahkan kontribusi dari para ekonom-ekonom abad 19, salah satunya Adam Smith yang melahirkan gagasan bahwa perhatian terhadap alokasi sumber daya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu.

            Hesmondhalgh memberikan penjelasan berkaitan dengan teori media dan ekonomi politik melalui salah satu tulisannya yakni Media industry studies, media production studies. Sejumlah figur dirujuk untuk membahas studi ini, di antaranya: Adorno & Horkheimer (1977) dengan The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception; Barthes (1976) dengan The Death of the Author dan Mosco (1996) dengan The Political Economy of Communication. Sejumlah karya Hesmondhalgh sendiri juga menunjukkan perhatiannya tentang diskursus media dan ekonomi politik, seperti Bourdieu, the Media and Cultural Production (2006), The Cultural Industries (2007) dan Politics, Theory and Method in Media Industries Research (2009). Dua istilah yang digunakan Hesmondhalgh studi produksi media merujuk Mayer, Banks dan Caldwell, sementara studi industri media merujuk Havens, Lotz & Tinic juga Holt & Perren. Penekanan produksi menjadi salah satu dari tiga aspek komunikasi selain penerimaan (reception) dan teks (Hesmondhalgh, 2010, h.3). Studi produksi media mengarahkan kajian pada produsen dan mekanisme proses produksi yang menunjukkan peran  media termasuk melihat keterlibatan masalah kekuasaan di dalamnya (Hesmondhalgh, 2010, h. 4).

            Sejak produksi media menjadi unit analisis secara khusus, ada dua kiblat pendekatan yang dominan terkait dengan produksi media. Pendekatan pertama basisnya adalah sosiologi fungsionalis yang berkembang di Amerika Serikat pada akhir 1960-an atau awal 1970-an yang menentang Marxisme dengan menekankan bahwa budaya dapat dibaca dari struktur masyarakat (Peterson & Anand, 2004 dalam Hesmondhalgh, 2010, h. 4). Fokus telaah tersebut pada minat atau perubahan makna konsumsi atas teks termasuk kecenderungan pada melihat produksi media (hiburan, seni, sains, dll) yang menggambarkan bahwa konstruksi sosial sebagai hasil dari praktik-praktik yang dianggap taken for granted. Sementara kiblat kedua, mengarah pada pendekatan ekonomi politik. Dalam pendekatan ini, melihat media sebagai upaya memahami produksi dan konsumsi simbol dalam masyarakat dikaitkan dengan pertanyaan-pertanyaan kunci seperti keadilan, kekuasaan dan kesetaraan (Hesmondhalgh, 2010, h. 4-5). Secara umum, dua kiblat pendekatan memahami media dibagi atas garis politik, di satu kubu sosiologi fungsional mengarah pada analisis deskriptif, netral (apolitis) dan melawan Marxisme, sedangkan pendekatan ekonomi politik lebih ke arah Marxian atau berbasis kritis.

            Setelah sebelumnya membahas istilah produksi media, kini kita membahas industri media. Berbicara industri jika meminjam istilah Williams, industri merujuk pada adanya institusi yang arahnya bukan mengarah pada unit personal atau individu, melainkan seperangkat lembaga untuk melakukan produksi atau perdaganagan (Williams, 1983 dalam Hesmondhalgh, 2010, h. 4). Dalam arti lain bahwa, memahami media bukanlah sekedar kepentingan personal produser saat membuat produk media tertentu, tetapi ada mekanisme pengorganisasian dengan prosedur dan nilai-nilai yang dianut yang mempunyai kecenderungan mendapatkan keuntungan (komersial). Pendekatan ekonomi politik yang lebih dekat dengan arus intelektual Eropa, menempatkan studi produksi media merupakan sinonim dari studi industri media. Berkaitan dengan minat dalam riset, kajian industri media atau produksi media banyak mengarah pada beberapa kecenderungan, seperti basis ekonomi yang mengarahkan pada studi manajemen dan bisnis; basis studi budaya yang mengarahkan pada pendekatan subjektif dengan teori-teori post-strukturalis; termasuk kajian mengenai organisasi, kepemilikan dan pekerjaan di ranah media. Mengadopsi pemikiran Ryan (1992 dalam Hesmondhalgh, 2010), ada tiga tahapan produksi budaya, meliputi: penciptaan (creation), reproduksi (reproduction) dan sirkulasi (circulation). Pendekatan ekonomi politik melihat konteks-konteks elemen tersebut dalam kerangka memahami industri media dengan melibatkan pemahaman atas kontrol, konflik dan kontradiksi.

            Melalui pendekatan ekonomi politik, sejumlah konsep dapat digunakan untuk menjelaskan kekuatan relasional yang berkelindan dalam memahami media. Beberapa konsep, seperti kepemilikan dan kontrol yang dikaitkan korporasi yang bukan sekedar fitur media melainkan ada kepentingan bisnis di dalamnya termasuk upaya transfer ideologi sebagai upaya penguasaan, standarisasi atau homogenisasi yang dirujuk dari kritik awal Adorno dan Horkheimer terhadap pertumbuhan industri budaya; multiplicity atau diversity yang dikenalkan Vincent Mosco dalam menyoal pembedaan (distinction). Jika meminjam istilah McRobbie, berkembangnya karya kreatif ditandai dengan nilai-nilai liberal kewirausahaan, individualisasi, ketergantungan pada komersial yang mensponsori (dalam Hesmondhalgh, 2010, h. 16). Peluang pendekatan ekonomi politik, elaborasi anatara basis ekonomi di satu sisi dan studi budaya di sisi lain memungkinkan membuka ruang analisis media yang lebih holistik termasuk perkembangan media-media baru di era kontemporer menuntut pemahaman lebih lanjut terkait dengan praktik, pengorganisasian dan relasi kuasa yang beroperasi dalam media.

            Ngai-Ling Sum dan Bob Jessop dalam Towards a Cultural Political Economy:Putting Culture in its Place in Political Economy (2013). Pendekatan ekonomi politik dalam perspektif ini mengadopsi pendekatan kritis dengan melihat perubahan budaya. Elaborasi dengan dimensi semiotik dari pendekatan ekonomi politik menunjukkan keterkaitan dengan proses sosial yang di dalamnya budaya diproduksi, disebarluaskan dan dipertukarkan. Ekonomi politik budaya (Cultural Political Economy/ CPE) diterapkan dengan menekankan analisis semiotik disesuaikan dengan formasi sosial dan dinamika kelembagaan. Dalam konteks ini, pembuatan makna mengacu pada proses penandaan dan komunikasi, tidak pada produksi makna linguistik (Sum & Jessop, 2013). CPE memiliki irisan dengan Marxisme, pendekatan sejarah, ekonomi dan relasi kuasa dalam praktik sosial.

            CPE sebagai sebuah pendekatan yang lahir atas kritik terhadap ekonomi politik ansich yang dianggap mengabaikan aspek fenomenologi atau pemaknaan secara utuh. CPE memberika ruang integrasi sebagai pisau analisis yang mensinergikan antara pemaknaan di satu sisi dan unit analisis ekonomi politik di sisi lain. Perspektif ini dimungkinkan dapat digunakan melakukan analisis terkait dengan fitur-fitur kelembagaan media dalam relasi sosial politik yang interaksional. CPE meberikan penekanan-penekanan dalam memahami realitas, seperti kritik dominasi dan relasi sosiokultural. Lebih lanjut, dalam memahami ekonomi politik budaya (Sum & Jessop, 2013), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai sesuatu yang membedakan dengan ekonomi politik yang sudah dikembangkan sebelumnya, seperti menempatkan perubahan budaya sebagai dasar memahami ekonomi politik, memahami konstruksi sosial dalam relasi kuasa, pendekatan ini menjadi bagian dari kritik dualisme struktur-agensi. Secara umum pendekatan CPE memberi kontribusi dalam konteks melakukan analisis budaya yang lebih kompleks dalam ekonomi politik.

Pertanyaan Penelitian

Bagaimana Scopus mengkomodifikasi produksi pengetahuan para akademisi di Indonesia?

Referensi

Couldry, N. (2012). Media, Society, World: Social Theory and Digital Media Practice. Cambridge, UK, and Malden, MA: Polity Pres

Hesmondhalgh, D. (2010) “Media industry studies, media production studies”, in J. Curran (ed.) Media and Society, London: Bloomsbury Academic.

Sum, N.L. & Jessop, B. (2013). Towards a cultural political economy: Putting culture in place in political economy, Edward Elgar Publishing, ZA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *