Review Teori Media dan Kajian Budaya

Verdy Firmantoro

Melalui paparan ini, saya akan menguraikan relasi antara teori media dan kajian budaya dalam perspektif komunikasi dengan menggali ide-ide utama dalam tulisan Representation: Cultural Representations and Signifying Practices oleh Stuart Hall (1997); The Nationwide Audience: Structure and Decoding oleh David Morley (1980); dan Subculture: The Meaning of Style oleh Dick Hebdige (1979). Berbicara kajian budaya atau lebih dikenal dengan Cultural Studies, merupakan bentuk reaksi intelektual kalangan pemikir kritis di tengah arus dominasi teori-teori media atau studi komunikasi yang lebih beorientasi pada positivistik. Lebih lanjut, melalui kajian budaya, memberikan sudut pandang bahwa basis analis tidak mengarah pada media effect layaknya yang dominan dalam teori-teori awal media, melainkan berorientasi pada analisis budaya populer yang mengarah pada industri budaya.

            Melalui pandangan Hall (1997), inti dari kajian budaya setidaknya ada dua hal, yakni terkait dengan representasi dan praktik-praktik penandaan. Kajian budaya menekankan untuk memahami proses-proses produksi makna sebagai manifestasi simbolik dan perlawanan atas status quo. Kajian budaya memberikan alternatif untuk mempelajari apa yang disebut Hall sebagai “circuit of culture” atau lingkaran budaya sebagai momen kunci berlangsungnya representasi di mana produk-produk budaya diproduksi dan dipertukarkan melalui bahasa untuk mencapai shared meanings (Hall, 1997, h. 1). Kerja di balik sistem representasi (representational system) bersifat asimetris yang tidak linier, namun melibatkan pergumulan interaktif di antara konsumsi, produksi, regulasi dalam sebuah lingkaran budaya (Hall, 1997).

            Perdebatan klasik menyoal budaya tinggi (high culture) baik dan budaya rendah (low culture) sebaliknya,bukan menjadi point of view, tetapi lebih pada melihat budaya massa atau budaya populer sebagai “way of life” masyarakat, komunitas, kelompok sosial atau bangsayang bersifat distinctive (Hall, 1997). Selain itu, kajian budaya juga mendorong kita menggunakan pendekatan semiotik untuk mengetahui bagaimana melalui bahasa, budaya dan representasi bekerja termasuk sampai menjadi kendaraan makna (vehicles of meaning) (Hall, 1997). Formasi diskursif menjadi salah satu istilah penting yang menjadi pedoman terkait apa yang sesuai dan tidak sesuai, sehingga makna, representasi dan budaya menjadi konstitutif (Hall, 1997). Oleh karenanya, melalui pandangan Hall, kita bisa memahami bahwa representasi dan praktik-praktik penandaan membawa kita untuk kritis mempersoalkan bahwa makna tidaklah hadir begitu saja aatau bersifat tetap dan netral, melainkan terus bergeser dari satu budaya ke budaya yang lain, dari satu bahasa ke bahasa yang lain, dari satu konteks historis ke konteks historis yang lain, dari satu komunitas ke komunitas yang lain, sampai pada muara bahwa representasi itu bukanlah sesuatu yang sederhana apalagi menunjukkan sebuah praktik yang transparan, sehingga kita perlu mengeksplorasi dan mengklarifikasi kompleksitas di dalamnya.

Pandangan Hall tidak berhenti dalam tulisannya sendiri. Dia menjadi rujukan utama dalam proyek riset pengaruh khalayak media yang dilakukan oleh Centre for Contemporary Cultural Studies Universitas (CCCS) Birmingham – Inggris, melalui David Morley dan Charlotte Brunsdon sekitar akhir 1970-an dan awal 1980-an. Dalam konteks tersebut, kita bisa mengetahui pergeseran kajian media ke ranah kritis. Tema-tema ideologis digunakan oleh CCCS melalui proyek Nationwideuntuk memahami model encoding dan decoding sebagai perpanjangan tangan Teori Resepsi Stuart Hall. Melalui tulisan Morley (1980) tentang The Nationwide Audience: Structure and Decoding, dijelaskan bagaimana perkembangan paradigma dalam studi media yang awalnya didominasi oleh paradigma tradisional atau normatif, dengan meletakkan basis efek sebagai narasi utama (dari media langsung ke penerima atau komunikan), kemudian munculnya sejumlah penolakan atas model jarum hipodermik berkembang two-step flow of communication, berlanjut respon intelektual pemikir kritis yang di dalamnya termasuk migrasi dari sejumlah tokoh-tokoh Frankfurt School ke Amerika Serikat dan berkembangnya paradigma intepretatif mewarnai perjalanan studi media.

Proyek riset Morley berkaitan dengan pengaruh khalayak media yang merujuk pada kategorisasi yang diajukan oleh Hall terkait konstruk dominasi, oposisi dan bacaan negosiasi sebagai respon kelas-kelas audiens atas tayangan Nationwide BBC. Dalam konteks riset menunjukkan bahwa praktik-praktik penandaan bersifat kompleks, pihak encoder berusaha “memenangkan persetujuan audiens” atas narasi bacaan pilihan yang diminati. Morley menekankan bahwa ada tiga hal yang perlu menjadi catatan terkait upaya menelaah struktur dan decoding, yakni kelas (relasi struktur kelas dan ideologi), kode-kode (kode beragam dan tidak terstruktur), korespondensi (sejauhmana suatu kelompok budaya mendiami atau menghuni kode tertentu) (Morley, 1980, h. 136).

Seperti halnya Morley, Hebdige juga banyak mengacu pada teori encoding/decoding Hall khususnya berkaitan dengan subkultur. Melalui tulisannya Subculture: The Meaning of Style, Hebdige (1979) memaparkan gaya subkultur anak muda Inggris pasca perang sebagai bentuk perlawanan simbolik menentang praktik-praktik hegemoni dan ideologi dominan. Hebdige menunjukkan bentuk-bentuk perlawanan dengan berbagai gaya hidup, seperti reggae, rastafarian, punk, teddy boys, dll. Fungsi subkultur mengkomunikasikan pengalaman kelompok, ekspresi identitas bahkan “memparodikan” keterasingan sebagai sebuah artikulasi kritis (Hebdige, 1979, h. 79). Seperti halnya yang dijelaskan Hall, Hebdige juga menjelaskan lebih lanjut bahwa gaya (style) sebagai praktik-praktik penandaan (signifying practice) “we are surrounded by emptiness but it is an emptiness filled with signs (Lefebvre, 1971 dalam Hebdige, 1979, h. 117).

Dengan demikian, terkait dengan tiga bahan bacaan yang menjadi rujukan dalam paparan sebelumnya, kajian budaya menjadi terobosan atau alternatif mengembangkan perspektif komunikasi khususnya berkaitan dengan memberikan kritik atas teori-teori media klasik. Kajian budaya memberi sentuhan yang lebih kompleks dalam mengeksplorasi fakta-fakta sosial dalam praktik sehari-hari. Namun demikian, memahami kajian budaya tidak cukup hanya menempatkan sebagai tradisi media kritis, lebih dari itu kajian budaya memberikan sarana untuk melihat representasi dalam lingkaran budaya yang tidak sekedar melacak aspek ekonomi tetapi juga melibatkan analisis kelas sosial.

Pertanyaan Penelitian

Bagaiamana representasi subkultur dalam praktik penolakan Scopus yang dilakukan oleh kalangan akademisi di Indonesia?

Referensi

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London & Thousand Oaks, CA: Sage.

Morley, D (1980). The Nationalwide Audience: Structure and Decoding. London: British Film Institute.

Hebdige, D. (1979). Subculture: The Meaning of Style. London: Routledge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *