Review SAP 2 sampai 14 (Seminar Perspektif dan Teori Media)

Verdy Firmantoro

REVIEW DAN SINTESIS:

Merujuk pada bahan bacaan yang ditelaah dari SAP awal (SAP 2) sampai akhir (SAP 14), saya mendapatkan banyak hal, terutama terkait dengan konsep-konsep penting dan sumbangsih pemikiran dari setiap sumber bacaan tersebut. Melalui Couldry kita bisa memahami perspektif alternatif bahwa media tidak aekedar sebagai teks atau struktur produksi melainkan sebagai praktik yang tidak berjarak dengan realitas sosial keseharian. Melalui Pink kita bisa memahami praktik keseharian di ranah digital dikaitkan dengan keterlibatan teknologi komunikasi yang membentuk praktik itu sendiri. Melalui Bourdieu kita bisa memahami praktik dalam sistem sosial yang di dalamnya terdapat hubungan antara habitus, kapital, kekuasaan, arena dan struktur. Melalui de Certeau kita bisa memahami bahwa praktik keseharian sebagai sesuatu yang kompleks di samping terdapat strategi dan taktik dalam relasi sosial. Melalui Couldry kita bisa memahami bahwa teori-teori sosial mengarahkan pemahaman terhadap realitas sosial lebih mendalam. Melalui Hesmondhalgh kita bisa memahami bahwa aspek sosial tidak bisa dikesampingkan dalam memahami media, tidak hanya mediasentris, penting memahami hubungan di dalam dan di antara media dan masyarakat. Melalui Bourdieu kita bisa memahami bahwa terkait dengan teori media dan konsumsi bahwa selera bukanlah sesuuatu yang bebas nilai, melainkan hasil konstruksi sosial yang memungkinkan dapat membangun distingsi. Melalui Warde kita bisa memahami bahwa konsumsi berkaitan dengan komunikasi simbolik representasi identitas termasuk gaya hidup. Melalui Hesmondhalgh kita bisa memahami pendekatan produksi media, organisasional sosiologi, studi manajemen dan ekonomi politik termasuk dikaitkan dengan produksi dan konsumsi simbol. Melalui Sum & Jessop kita bisa memahami pendekatan ekonomi politik dengan mengelaborasi basis budaya dan sejarah (Cultural Political Economy). Melalui Hall kita bisa memahami terkait konsepsi representasi yang berhubungan dengan budaya, makna, tanda dan kekuasaan. Melalui Morley & Charlotte kita bisa memahami produksi pesan termasuk kategorikal decoding baik dominasi, negosiasi maupun oposisi. Melalui Hebdige kita bisa memahami gaya subkultur sebagai manifestasi perlawanan atas ideologi dominan. Melalui Giddens kita bisa memahami teori strukturasi yang berkaitan dengan reproduksi sistem sosial dikaitkan dengan struktur dan agen. Melalui Blumer dalam Rose kita bisa memahami interaksi simbolik berkaitan dengan intepretasi dan proses pemaknaan yang berlangsung secara konstitutif tidak statis. Melalui Butler kita bisa memahami bahwa telaah atas gender dikaitkan dengan tindakan performatif (performativitas) yang memungkinkan berbeda dari struktur normatif dan menolak adanya oposisi biner. Melalui Boudrillard kita bisa memahami bahwa kepalsuan sebagai sebuah kenyataan di mana yang tidak riil justru yang dianggap riil (simulakrum). Melalui Castells kita bisa memahami masyarakat jaringan di mana hubungan-hubungan terjalin melalui keterlibatan teknologi informasi. Melalui McLuhan kita bisa memahami bahwa media sebagai pesan di mana teknologi memainkan peran penting bukan sekedar alat atapi konten itu sendiri. Melalui McGuigan kita bisa memahami posmodernisme sebagai ide filosofis yang berangkat dari postrukturalisme dan formasi budaya. Melalui Dayan & Katz kita bisa memahami bahwa perspektif media event mengarahkan pada persoalan partisipasi ausiens atau khalayak. Melalui Barker & Petley kita bisa memahami bahwa bahwa efek bukanlah sebagai derivasi langsung dari terpaan media, melainkan juga keterlibatan otoritas audiens atau khalayak. Melalui Perse kita bisa memahami bahwa efek media sangat besar, namun efek tersebut tidaklah linier melainkan ada faktor-faktor lain termasuk khalayak yang ikut menentukan.

Selanjutnya, dengan mengelaborasi beberapa pandangan inti dari sumber bacaan, rumusan penelitian saya sebagai berikut:

Bagaimana Scopus mengkomodifikasi praktik produksi pengetahuan akademisi di Indonesia?

  1. Bagaimana strukturasi menjelaskan produksi pengetahuan dalam menopang rezim kapitalisme?
  2. Bagaimana habitus para akademisi di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia dalam menggunakan Scopus sebagai media internasionalisasi praktik akademik?
  3. Bagaiamana representasi subkultur dalam praktik penolakan Scopus yang dilakukan oleh kalangan akademisi di Indoensia?

Sejumlah konsep saya gunakan untuk meneliti hal tersebut, di antaranya: konsep komodifikasi, produksi pengetahuan, strukturasi, habitus, kapital, subkultur dan praktik.

Secara umum, riset ini berada dalam payung ekonomi politik dan cultural studies berkaitan dengan produksi pengetahuan (knowledge production). Melalui riset ini akan mengeksplorasi dan membongkar praktik produksi pengetahuan terkait dengan rezim Scopus. Penggalian data dapat dikaitkan bahwa setiap akademisi dituntut menerbitkan artikelnya di jurnal Scopus. Komodifikasi terkait dengan produksi pengetahuan dapat dibongkar lebih lanjut dengan mengeksplorasi strukturasi di mana terdapat relasi antara agen dan struktur yang memengaruhi produksi pengetahuan global. Selanjutnya, mengakaji sejauhmana kepemilikan kapital (seperti budaya, sosial, ekonomi, simbolik) yang dapat mendukung dalam arena pertarungan produksi pengetahuan. Kemudian, konsepsi habitus dapat merefleksikan nilai-nilai yang diyakini oleh para akademisi sampai membentuk pola pikir dan pola sikap tertentu termasuk di dalamnya sebagai mekanisme internasionalisasi praktik akademik. Selain itu, dalam konteks studi ini menempatkan “diasumsikan” produksi pengetahuan tidak lagi sebagai sarana atau ruang transfer pengetahuan, melainkan sebagai komoditas yang dikontrol rezim kapitalisme. Berbagai respon muncul menanggapi problematika tersebut, upaya melihat representasi subkultur dalam praktik penolakan Scopus yang dilakukan oleh kalangan akademisi di Indonesia dapat memperteguh kedalaman studi ini. Oleh karena itu, telaah dari riset ini sangat berguna dengan memahami produksi pengetahuan dalam ruang akademik dikaitkan dengan pertanyaan-pertanyaan kunci seperti keadilan, kekuasaan dan kesetaraan yang dilihat melalui pendekatan ekonomi politik dengan melihat perubahan budaya termasuk sejarah pengetahuan di dalamnya.

Referensi

Barker, M & Petley, J. (2001). Effects: the Media / Violence Debate (2nd ed.). London & New York: Routledge.

Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. Ann Arbor, MI: University of Michigen Press.

Blumer, H. (1962). Society as Symbolic Interaction. In Arnold M. Rose. Human Behavior and Social Processses: Symbolic Interactionist Approach, Houghton Mifflin Company, h. 179-192

Bourdieu, P. (1977) Outline of a Theory of Practice. Cambridge: Cambridge University Press.

Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Butler, J. (1990). Gender Trouble. New York & London: Routledge.

Butler, J. (2004). Undoing Gender. New York & London: Routledge.

Castells, M. (2000). The Rise of Network Society, 2nd ed. Oxford: Blackwell.

Couldry, N. (2004). Theorising Media as Practice. Social Semiotics, 14 (2), h. 115-132.

Couldry, N. (2012). Media, Society, World: Social Theory and Digital Media Practice. Cambridge, UK, and Malden, MA: Polity Pres.

Dayan, D & Katz, E. (1992). Media Events: The Live Broadcasting of History, Cambridge: Harvard University Press.

de Certeau, M. (1984). The Practice of Everyday Life. University of California Press: Berkeley.

Giddens, A. (1984). The Constitution of Society. Cambridge: Polity Press.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London & Thousand Oaks, CA: Sage.

Hebdige, D. (1979). Subculture: The Meaning of Style. London: Routledge.

Hesmondhalgh, D. (2010) “Media industry studies, media production studies”, in J. Curran (ed.) Media and Society, London: Bloomsbury Academic.

Hesmondhalgh, D., & Toynbee, J. (Eds.). (2008). The Media and Social Theory. London & New York: Routledge.

Littlejohn, S.W., & Foss, K.A. (2008). Theories of Human Communication. Singapura: Cengage Learning.

McGuigan, J. (2006). Modernity and Postmodern Culture. Berkshire: Open University Press.

McLuhan, M. (2003). Understanding Media: The Extensions of Man. Massachusetts: Massachusetts Institute of Technology Press.

Morley, D (1980). The Nationalwide Audience: Structure and Decoding. London: British Film Institute.

Perse, E. M. (2008). Media Effects and Society, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

Pink, S. dkk. (2016). Digital Ethnography: Principles and Practice. London: Sage Publications.

Sum, N.L. & Jessop, B. (2013). Towards a Cultural Political Economy: Putting Culture in Place in Political Economy. Cheltenham, UK – Northampton, MA, USA: Edward Elgar Publishing.

Warde, A. (2014). ‘After taste: Culture, consumption and theories of practice’. Journal of Consumer Culture, 14 (3), 279-303.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *